KHUTBAH JUM’AH HAZRAT AMIRUL MU’MININ KHALIFATUL MASIH V atba. Tanggal 16 Mei 2008 dari Baitul Futuh London U.K. TENTANG : SIFAT AL JABBAR (PENAKLUK)

•September 29, 2008 • Leave a Comment

01

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

نَحْمَدُهُ وَنُصَلِّىْعَلَى رَسُوْلِهِ الْكَرِيْمِ وَعَلَىعَبْدِهِ اْلمَسِيْحِ اْلمَوْعُوْدِ

KHUTBAH JUM’AH

HAZRAT AMIRUL MU’MININ KHALIFATUL MASIH V atba.

Tanggal  16 Mei 2008 dari Baitul Futuh London U.K.

TENTANG : SIFAT AL JABBAR (PENAKLUK)

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلاَمُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ

Artinya : Dialah Allah dan tiada Tuhan selain Dia, Maha Berdaulat Yang Maha Suci, Sumber segala kedamaian, Pelimpah keamanan, Maha Pelindung, Maha Prkasa, Maha Penakluk, Mahaagung, Mahasuci Allah, jauh diatas apa yang mereka persekutukan dengan Dia. (Al Hasyr : 24)

Salah satu sifat Allah swt adalah Al Jabbar. Seperti tersebut dalam ayat yang barusan telah saya bacakan beserta terjemahannya. Akan tetapi perkataan Jabbar ini jika dipergunakan untuk Zat Allah swt ia mengandung arti dan tafsiran yang berbeda-beda dari

arti yang dipergunakan untuk manusia. Sebagaimana

02

nampak dari terjemahan ayat ini.

Para ahli Bahasa memberi arti tentang perkataan Jabbar ini, pertama didalam Mufradat dari Imam Razi tertulis sebagai berikut : Sifat Allah yang dikatakan Azizul jabbarul mutakabbir, nama Allah swt Al Jabbar, sesuai perkataan orang-orang Arab : Jabbartul faqir yakni saya telah memberi kepada fakir. Allah swt diberi nama Al Jabbar karena Allah swt adalah Zat yang memberi banyak ni’mat-ni’mat kepada manusia.

Selanjutnya dikatakan bahwa, perkataan jabbar dpergunakan terhadap manusia yang mendawakan diri secara takabbur dan sombong yang sebenarnya dia tidak mempunyai hak untuk berbuat demikian. Pendeknya perkataan Jabbar dipergunakan kepada manusia yang sifatnya hanya mengecam atau mencela.

Didalam Lughat Arab lainnya yaitu Lisanul Arab tertulis, Al jabbar adalah sebuah sifat Allah swt yang menjalankan perintah dan larangan-Nya diatas manusia sesuai dengan kehendak-Nya. Jelaslah bahwa didalamnya tidak terdapat sebarang paksaan. Allah swt telah menyerahkan dihadapan manusia apa yang baik dan apa yang buruk. Jika manusia memilih kebaikan maka ia akan mendapat pembalasan yang baik, dan jika

03

melakukan keburukan maka sesuai dengan peraturan dan undang-undang Allah swt ianya akan menerima akibat keburukannya itu sebagai hukuman kepadanya. Akan tetapi Allah swt juga memiliki sifat Rahmat (kasih sayang) sebagaimana Allah swt berfirman: Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Dibawah sifat itu Dia juga Malik atau Raja. Bagaimanapun didalam Lughat itu terdapat satu lagi arti Al jabbar yang telah ditulis sebagai berikut: Al Jabbar itu salah satu sifat Allah swt yang tidak dapat dicapai oleh manusia.

Diterangkan lagi bahwa Al jabbar dikatakan kepada sebuah wujud yang agung dan luhur. Jika jabbar dipergunakan bagi manusia artinya orang yang takabbur dan sombong yang sebetulnya manusia tidak mempunyai hak untuk berbuat demikian. Dikatakan bahwa Jabbar adalah manusia yang dengan takabbur menolak untuk beribadah kepada Allah swt, dia tidak mau beribadah kepada-Nya, karena didalam diri orang itu terdapat sipat takabbur.

Qalbun jabbar artinya : hati yang tidak memiliki rasa belas kasih. Hati yang tidak mau menerima nasihat orang lain disebabkan takabbur. Rajulun jabbar dikatakan kepada setiap orang yang dengan paksa menyuruh orang agar mengikuti kehendaknya.

04

Sebagaimana Allah swt berfirman :

وَمَا اَنْتَ عَلَيْهِمْ بِجَباَّرٍِ

Artinya : tidaklah engkau berkuasa atas diri mereka. Sehingga engkau tidak berhak untuk memaksa mereka untuk menerima Islam. Kemudian kepada setiap orang yang suka bertengkar dan secara tidak wajar bertengkar, orang itu disebut jabbar.

Al Jabbar, juga dikatakan Qawwi, Azim dan Kabir. Imam Abu Hanifah berkata : Al jabbar dikatakan kepada orang yang terus-menerus bertambah tinggi derajatnya atau martabatnya dan tidak terdapat kekurangan didalam kehormatan dan kemuliannya.

Hazrat Khalifatul Masih II r.a. telah mengambil kutipan-kutipan dari berbagai sumber tentang makna al jabber ini. Beliau menulis : Al Jabbar adalah satu sifat Allah swt. Artinya adalah Zat Yang memenuhi setiap hajat dan keperluan hamba-hamba-Nya. Akan tetapi apabila dipergunakan kepada zat selain Allah maka Al jabbar artinya, pemberontak dan pelanggar undang-undang. Jabbar juga artinya menganggap orang lain sangat rendah dan menganggap dirinya lebih luhur atau lebih mulia dari yang lain. Selanjutnya beliau menulis : lafadz jabbar terdapat didalam sifat Allah swt artinya Zat

05

Yang melakukan islah (perbaikan) dan jabbar dikatakan kepada setiap orang yang selalu melakukan pemberontakan dan orang yang selalu menentang perkataan orang lain. Ditempat lain beliau menulis : Dimana perkataan jabbar ini artinya melakukan islah atau perbaikan, maka sebaliknya manusia melakukan paksaan terhadap orang yang bertentangan dengan kehendaknya dan juga artinya adalah memaksa orang untuk melakukan sesuatu dengan kekerasan. Seolah-olah perkataan jabbar disatu pihak mengandung arti islah dan kebaikan dan dipihak lain mengandung arti kekerasan dan kezaliman didalamnya.

Hazrat Masih Mau’ud a.s. mengadakan perbaikan terhadap orang-orang yang sudah berubah dan rusak keadaan akal pikiran dan mental mereka dizaman beliau. Hazrat Muslih Mau’ud r.a didalam pidato Jalsah Salanah dengan tajuk “ Taqdir Ilahi , telah menjelaskan arti jabbar yang sebenarnya, yang pada umumnya orang-orang mengartikannya salah. Beliau disatu tempat menjelaskan arti jabbar ini didalam buku beliau itu yakni : Dapat diketahui dengan jelas dari Kitab Suci Al Qur’an bahwa Allah swt adalah Jabbar. Artinya Zat Yang mengadakan islah atau perbaikan. Sedangkan mereka mengatakan, artinya adalah pemaksaan dan kekerasan.

06

Padahal dalam bentuk bagaimanapun arti itu tidak benar. Didalam Bahasa Arab jabbar artinya membetulkan tulang yang sudah patah. Dan apabila perkataan jabbar ini dinisbahkan kepada Allah swt maka artinya Tuhan Yang membetulkan amalan manusia yang salah dan kacau balau. Dan arti yang kedua adalah menekan hak orang lain sambil menegakkan kehormatan diri sendiri. Arti ini tidak dipergunakan untuk zat Allah swt dan memang tidak bisa digunakan untuk zat Allah swt. Sebab semua adalah milik Allah swt. Dan tidak dapat dinisbahkan untuk zat-Nya, yaitu dengan cara merampas hak orang lain kemudian menegakkan kehormatan diri-Nya sendiri.

Hazrat Masih Mau’ud a.s. menjelaskan tentang ayat yang telah saya tilawatkan pada permulaan khutbah yaitu Al Malikul Quddus, yakni Tuhan adalah Raja Yang tidak mempunya sebarang ‘aib (kelemahan). Sebab zahir sekali didalam kerajaan manusia tidak kosong dari ‘aib (kelemahan). Misalnya seorang raja yang rakyatnya kabur melarikan diri dari tempatnya kenegara lain, maka kerajaan itu tidak berdiri lagi. Atau misalnya semua rakyatnya kelaparan maka anggaran belanja Raja itu dari mana akan datang? Kemudian jika semua rakyat mulai menentang Raja dan mengatakan apa kelebihan

07

anda dari kami semua? Maka bagaimana ia akan membuktikan kelayakannya untuk menjawab ?

Maka Kerajaan Tuhan tidak demikian adanya. Dia dapat menghancurkan seluruh makhluq-Nya dengan sekejap mata, kemudian Dia dapat menciptakan kembali makhluk-makhluk-Nya yang lain sebagai gantinya. Jika Dia bukan Khalik dan Qadir seperti itu, maka selain Dia menjadi zalim Kerajaan-Nya pun tidak akan dapat berjalan. Sebab setelah satu kali dia memberi ma’af dan memberi keselamatan kepada dunia, dari mana dia akan mendatangkan dunia yang lain? Apakah orang-orang yang sudah memperoleh keselamatan kemudian dikirim kedunia lagi lalu ditangkapi lagi untuk diberi hukuman kembali? Dan dengan melancarkan kezaliman itu lalu Dia menarik balik najat (keselamatan) yang pernah diberikan sebelumnya kepada mereka? Maka keadaan demikian nampak sekali perbedaan dengan wujud Tuhan Yang sebenarnya. Dan seperti raja-raja dunia mempunyai banyak kelemahan dan noda. Mereka membuat peraturan dunia, yang sering sekali berobah-obah. Dan demi melindungi kepentingan dirinya tidak ada pilihan lain selain berlaku zalim terhadap orang-orang yang dianggap sebagai lawan-lawannya. Misalnya undang-undang Kerajaan membolehkan untuk

08

menyelamatkan sebuah kapal lalu semua penumpangnya ditenggelamkan kelaut. Akan tetapi Tuhan tidak berbuat seperti itu. Maka jika Tuhan memang sungguh-sungguh Qadir (Maha Kuasa) dan jika bukan sebagai Pencipta, maka seperti raja-raja yang lemah dan pengecut itu karena takut lalu berbuat zalim. Atau menjadi seorang yang adil lalu meninggalkan Tuhan. Melainkan Bahtera Tuhan dengan segala Qudrat-Nya berjalan dengan keadilan yang sejati.

Kemudian bersabda tentang As Salam, yaknii Tuhan yang suci dari semua ke’aiban (kelemahan) dan terlindung dari semua musibah-musibah dan kesusahan. Bahkan Dia Pemberi keselamatan. Dari nama-Nya saja jelaslah bahwa jika Dia terlibat didalam berbagai macam musibah dan dapat dikenai pukulan tangan manusia dan gagal didalam memenuhi kehendak-Nya, maka dengan melihat kenyataan yang buruk ini bagaimana hati manusia bisa mendapat ketenteraman atau ketenangan dari pada-Nya. Bahwa tuhan seperti itu tidak dapat melepaskan kami dari musibah.

Kemudian bersabda: Tuhan Pemberi kedamaian dan Penegak kesempurnaan dan Penegak Tauhid-Nya. Dan hal ini mengisyarahkan bahwa orang yang sungguh-sungguh beriman kepada Tuhan tidak akan

09

mendapat malu didalam Majlis apapun. Dan dihadapan Tuhanpun dia tidak akan mendapat malu, sebab dia memiliki dali-dalil yang sangat kuat untuk membela dirinya. Akan tetapi orang yang pura-pura beriman kepada Tuhan, ia terlibat didalam musibah yang besar. Yang seharusnya ia mengemukakan dalil-dalil, justeru ia melibatkan perkara-perkara yang sia-sia kedalam penipuan, supaya jangan ditertawakan orang sehingga ia menyembunyikan kesalahannya yang sudah nyata.

Kemudian beliau menjelaskan : Muhaimul azizul jabbarul mutakabbir yakni Pelindung bagi semua, Ghalib bagi semua dan Pembuat baik terhadap kerusakan dan Zat-Nya sangat Mustaghni (Dia tidak memerlukan sesuatu, tapi manusia memerlukan segala-sesuatu dari pada-Nya)

Demikianlah Tuhan kita yang kita ketahui dari penjelasan ayat tersebut diatas yang sudah saya tilawatkan sebelumnya. Didalamnya telah dijelaskan semua sifat-sifat Tuhan yang bisa membawa hamba-hamba menjadi sangat dekat kepada-Nya dan bisa menjadikan manusia pewaris-pewaris kasih sayang Tuhan. Dia adalah Raja, suci dari setiap kesalahan dan kelemahan, suci dari setiap keburukan. Dia adalah Sumber setiap kedamaian yang sempurna. Dia

10

Pelindung manusia dari setiap mara-bahaya dan Penjaga mereka. Dan Dia Pembimbing bagi semua, Dia memiliki semua kekuatan dan juga Dia adalah Ghalib. Dia Pembuat baik setiap kerusakan dan Dia Pemberi ganti kerugian. Dia tidak memerlukan sesuatu dan Dia Pemberi setiap orang yang memerlukan sesuatu.

Maka Tuhan Yang Jabbar Yang memiliki semua kekuatan dan kekuasaan, tidak dapat diperlakukan terhadap-Nya seperti yang pada umumnya diperlakukan terhadap manusia. Sebab kekuatan sementara, yang diperlukan oleh sesuatu Pemerintahan, Tuhan tidak memerlukan sesuatu seperti itu, Dia Sumber dari pada segala macam kekuatan dan kekuasaan. Namun Kebalikannya sebagaimana telah saya katakan bahwa jika dinisbahkan kepada manusia, artinya manusia yang tidak memiliki rasa kasih sayang, enggan menerima nasihat dari siapapun disebabkan ia takabbur, ia memaksa orang lain untuk mengikuti keinginannya, dan ia tukang bertengkar.

Dimanapun didalam Al Qur’an terdapat perkataan Jabbar, jika Allah swt menggunakannya untuk manusia, hal itu digunakan dalam arti manfi atau negative. Sekarang ayat-ayat itu akan saya kemukakan yang telah difirmankan didalam Al Qur’an sehubungan dengan

11

masalah ini. Seorang Mufassir menjelaskan apabila lafaz jabbar dipergunakan bagi manusia maka artinya seperti tersebut dibawah ini :

1) Menguasai, misalnya didalam ayat ini أَنتَ عَلَيْهِم بِجَبَّارٍ وَمَا artinya : dan bukanlah engkau pengawas untuk memaksa mereka.

2) orang yang kokoh kuat فِيهَا قَوْماً جَبَّارِينَ إِنَّ artinya sesungguhnya didalam negeri itu ada satu kaum yang kokoh kuat

3) وَلَمْ يَجْعَلْنِي جَبَّارًا dan Dia tidak menjadikan daku seorang yang sombong dan sial.

4) بَطَشْتُمْ جَبَّارِيْن َ kamu menangkap orang seperti orang-orang yang kejam

تَكُونَ جَبَّاراً فِي الاَّرْضِ 5 ِْ أَن engkau tidak menghendaki lain kecuali ingin menjadi seorang yang zalim dinegeri ini.

Maka ayat tentang “menguasai” secara penuh ayat ini berbunyi :

نَحْنُ أَعْلَمُ بِمَا يَقُولُونَ وَمَا أَنتَ عَلَيْهِم بِجَبَّارٍ فَذَكِّرْ بِالْقُرْآنِ مَن يَخَافُ وَعِيدِ

Artinya : Kami mengetahui benar apa yang dikatakan

12

mereka , dan engkau sekali-kali bukanlah pengawas untuk memaksa mereka. Maka terus nasihatilah mereka dengan Al Qur’an dia yang takut akan peringatan-Ku (Surah Qaf : 46)

Maka perintah ini ditujukan kepada semua orang yang beriman kepada Rasulullah saw juga, yakni tugas kalian hanyalah menyampaikan amanat, dan perbaikan jiwa manusia tidak dapat dilakukan dengan kekerasan. Apabila Allah swt memperlihatkan tanda-tanda kepada orang-orang yang dikasihi-Nya maka orang-orang yang ingkarpun akan berpikir dan menyadari: “ Disebabkan perbuatan dosa-dosa kita sekarang sedang banyak turun musibah menimpa kita sebagai hukuman.” Akan tetapi banyak sekali orang-orang yang bernasib malang pikiran mereka tidak sampai kesana.

Di Pakistan juga setelah terjadi berbagai macam bencana dan musibah, banyak para penulis didalam surat kabar sampai memenuhi kolom-kolom surat kabar, mereka mengatakan bahwa disebabkan perbuatan dosa-dosa kita banyak musibah seperti ini telah menimpa kita semua. Akan tetapi mereka tidak bersedia mendengar seruan dari orang yang datang dari Allah swt. Mereka tidak mau membuka mata. Namun

13

demikian Tuhan telahpun memerintahkan kepada kita,

bahwa tugas kalian adalah memberi peringatan dan menyampaikan amanat kepada mereka itu.

Maka dengan rasa simpati sebagai manusia dan juga dibawah perintah Allah swt upaya memanggil manusia kearah jalan yang lurus adalah tugas kita semua.

Allah swt telah berjanji terhadap Hazrat Masih Mau’ud a.s. bahwa : “Aku akan sampaikan tabligh engkau kesegenap pelosok dunia.” Dan setiap hari kita menyaksikan kesempurnaan janji yang berupa wahyu ini.. Akan tetapi ada lagi arti yang lain dari wahyu itu yakni Allah swt berfirman, tugas orang-orang yang telah beriman kepada engkaulah untuk menyampaikan terus amanat ini kepada dunia. Sedangkan mendatangkan hasilnya adalah menjadi tanggung jawab-Ku. Menyediakan sarananya untuk itu adalah tanggung jawab-Ku dan menggunakan sarana itu adalah tugas kewajiban kalian. Mendatang hasil dari pelaksanaan itu dan menundukkan hati manusia adalah tugas kewajiban Allah swt.

Maka tugas yang dibebankan diatas pundak kita harus dilaksanakan secara terus-menerus. Semoga Allah swt memberi taufiq kepada kita semua untuk melaksanakan kewajiabn-kewajiban itu.

14

Kemudian Allah swt didalam Surah Hud ayat 60 telah menjelaskan :

وَتِلْكَ عَادٌ جَحَدُواْ بِآيَاتِ رَبِّهِمْ وَعَصَوْاْ رُسُلَهُ وَاتَّبَعُواْ أَمْرَ كُلِّ جَبَّارٍ عَنِيدٍ

Dan demikianlah ‘Ad, Mereka telah mengingkari tanda-tanda Tuhan mereka dan mendurhakai Rasul-rasul-Nya dan setiap orang mengikuti perintah setiap musuh kebenaran yang jabir dan sombong.

Didalam ayat ini juga Allah swt mengingatkan manusia dengan menggunakan perkataan jabbar. Dengan demikian terbukti penolakan kaum ‘Ad terhadap kebenaran. Mereka menentang Rasul Allah swt dan mereka menganggap kekuasaan dan kekuatan harta dunia sebagai penjamin mereka. Padahal dipandangan Tuhan mereka ini orang-orang pemberontak. Didalam ayat berikutnya dikatakan bahwa disebabkan kebodohan mereka dan tidak bersyukur, Allah swt telah menghukum dengan azab diatas mereka. Padahal mereka menganggap diri mereka jabbar, perkasa disertai kesombongan, padahal kekuatan mereka sedikitpun tidak membawa sebarang faedah apapun disisi Tuhan. Jadi Allah swt menjadikan peristiwa itu sebagai pelajaran bagi bangsa-bangsa yang akan

15

datang kemudian setelah kehancuran mereka, supaya manusia selalu ingat kepada peristiwa ini.

Didalam Surah Syu’ara ayat 131 Allah swt berfirman :

وَإِذَا بَطَشْتُم بَطَشْتُمْ جَبَّارِينَ

Artinya : Dan apabila kamu menangkap seseorang, kamu menangkap seperti orang-orang yang kejam.

Didalam ayat ini diperingatkan tentang keadaan zaman sekarang. Bagaimana bentuk kemenangan yang akan kalian (para penentang) peroleh dengan giat berusaha menghancurkan kaum yang berada dibawah kekuasaan kalian. Kalian berusaha menindas mereka dengan kehinaan dan kalian menzahirkan kebesaran dan kekuatan kalian dengan sombongnya. Kalian bertumpu kepada kekuatan angkatan perang yang kalian miliki, kalian bermaksud untuk menaklukan bangsa-bangsa lain. Akan tetapi Rasul Tuhan memberi peringatan kepada kalian bahwa Tuhan tidak menyukai perlakuan kalian demikian. Takutlah kalian kepada Tuhan dan perbaikilah diri kalian.

Pada zaman sekarang kita menyaksikan bangsa-bangsa yang berbuat sesuai dengan cara yang diuraikan diatas. Kadang-kala demi melindungi

16

kepentingan politik, mereka menguasai keadaan mengatasnamakan agama. Akan tetapi kesombongan dan takabbur mereka menunjukkan dengan jelas apa yang diucapkan dibibir berlainan dengan yang terkandung didalam hati mereka. Tujuan asli mereka tiada lain hanyalah untuk menancapkan dan mengekalkan kekuasaan dan kedudukan mereka dalam pemerintah. Dan tujuan akhir mereka untuk menegakkan pemerintahan menurut cara mereka sendiri. Tujuan mereka untuk mengontrol semua golongan dan untuk mencapai tujuan mereka tidak ragu-ragu melakukan kezaliman terhadap pihak lain. Mula-mula apa yang diucapkan mereka seakan-akan benar, namun apabila lawan sudah berada dibawah kekuasaan mereka, mulailah mereka melakukan penindasan dengan kejam terhadap pihak lawan mereka.

Pada zaman sekarang ini banyak pemerintahan yang karena nasib malang mereka, yang menamakan diri negara-negara Islam, setelah menelaah hukum-hukum Al Qur’an seharusnya mereka ini beramal sesuai dengan hukum-hukum itu, namun sebaliknya mereka semakin meningkat didalam perbuatan pelanggaran mereka terhadap hukum-hukum agama yang telah mereka pelajari.

17

Mula-mula kezaliman terhadap Ahmadiyah berlaku di Pakistan, mereka melakukan kezaliman-kezaliman secara berterusan. Sekarang di Indonesia juga semenjak beberapa bulan yang lepas sedang terjadi perlakuan-perlakuan zalim terhadap orang-orang Ahmadi disana. Pelaku kezaliman menganggap kedudukan mereka sangat kuat dan kuasa. Mereka bisa berbuat sekehendak hati mereka untuk menzalimi orang-orang Ahmadiyah. Mereka secara kejam menyiksa dan menyakiti orang-orang Ahmadi, baik terhadap lelaki, perempuan maupun terhadap anak-anak. Mereka membakar rumah dan menjarah harta orang-orang Ahmadi. Hal itu berlaku dinegara Indonesia karena para Mulla (orang-orang yang menamakan diri ulama atau ahli agama) ikut bagian didalam kekuasaan pemerintah disana. Mereka berbuat demikian demi mempertahankan semarak politik mereka dan mengekalkan kedudukan pemerintahan mereka dengan mengikuti kehendak para mullah itu. Para Mullah itulah yang telah menimbulkan kerusuhan dan kekacauan atas nama agama. Mereka menganggap diri jabbir, hebat dan perkasa. Tidak sadar bahwa diri mereka itu termasuk didalam perbuatan orang-orang yang takabbur dan membesarkan diri. Mereka tidak menghargai hak-

18

hak asasi manusia. Mereka tidak sadar bahwa merekapun sedang melakukan pelanggaran terhadap hukum-hukum Allah swt. Dan mereka sama sekali tidak mengetahui bahwa Allah swt telah menceritakan akibat buruk perbuatan orang-orang zalim didalam Al Qur’an, disebabkan memusuhi Nabi atau Rasul Allah swt, dalam menjelaskan perkara demikian Allah swt berfirman :

وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ

Artinya : Dan sesungguhnya Tuhan engkau, Dialah Yang Mahaperkasa, Maha Penyayang (Asy Syu’ara : 192)

Kita tahu betul bahwa pada akhirnya kemenangan akan berada ditangan kita, sebab Tuhan selalu bersama kita. Yaitu Tuhan Yang telah berjanji kepada Hazrat Masih Mau’ud a.s. bahwa “ Aku bersama engkau dan bersama orang-orang yang mencintai engkau.” Tuhan selalu bersama kita, yaitu Tuhan yang telah berjanji kepada Hazrat Masih Mau’ud a.s. bahwa Dia akan memberi kemenangan kepada beliau. Maka kita betul-betul yakin bahwa akhirnya kemenangan akan ada dipihak kita. Dan kami yakin betul bahwa mereka yang dengan sombongnya menganggap diri kuasa dan jabbir akhirnya akan tiba sa’at mereka menjadi mangsa

19

kehancuran. Mereka mengira dengan melawan dan memusuhi Ahmadiyah kedudukan dan martabat mereka semakin tinggi. Sebenarnya mereka tidak tahu bahwa bumi akan segera terlepas dari bawah telapak kaki mereka. Kedudukan mereka tidak akan semakin tinggi atau unggul melainkan sebaliknya mereka akan jatuh tersungkur kedalam lumpur kehinaan. Bahkan mereka dengan cepat sedang menuju kearah itu.

Maka orang-orang Ashmadi dimanapun berada, baik yang ada di Indonesia atau di Pakistan atau dinegara-negara lain didunia, dimanapun mereka sedang diperlakukan secara zalim, mereka harus betul-betul ingat bahwa penolong mereka tida lain hanyalah Tuhan Yang Maha Gagah dan Maha Perkasa. Maka rebahkanlah diri kalian dihadapan-Nya sambil berdo’a kepada-Nya. Mintalah belas kasih-Nya. Tuhan Yang ‘Alimul Ghaib juga, jika dipandangan Tuhan mereka ini sudah tidak patut diperbaiki lagi, maka semoga Dia menyelamatkan kita dari kejahatan mereka itu. Orang-orang bodoh atau orang-orang lemah itu, yang disebabkan ulah mereka sendiri mereka sedang menghancurkan nasib mereka sendiri baik jasmani maupun ruhani mereka.

Sebenarnya bagi orang-orang demikian-pun

20

diperlukan belas kasihan juga. Kitapun harus memohon kepada Tuhan Yang Rahim supaya Dia melindungi orang-orang zalim itu, jika Allah swt telah benar-benar memasukkan orang-orang zalim ini kedalam golongan orang-orang yang telah Tuhan firmankan yaitu :

كَذَلِكَ يَطْبَعُ اللَّهُ عَلَى كُلِّ قَلْبِ مُتَكَبِّرٍ جَبَّارٍ

Artinya : Demikianlah Allah meletakkan meterai diatas kalbu setiap orang takabbur, tinggi hati. Dan selanjutnya untuk bagian dunia lainpun diperlukan do’a-do’a secara sungguh-sungguh. Disamping harus disampaikan juga amanat kebenaran kepada mereka. Untuk itu semoga Allah swt memberi taufiq kepada kita semua.

Kepada Jema’at Indonesia juga saya ingin menyampaikan pesan bahwa, pertama sesuai dengan nubuatan Kitab Suci Al Qur’an, mula-mula kejadian itu menimpa Jema’at di Pakistan. Dimana-mana api dikobarkan, polisi hanya berdiri seperti patung menonton seakan-akan menyaksikan sebuah pertunjukan tidak bisa berbuat apa-apa. Sekarang di Indonesia juga sedang berlangsung kejadian yang sama secara bergantian dari satu daerah kedaerah yang lain.

Pemandang seperti itu semua nampak dihadapan kami.

21

Jadi peristiwa yang sedang terjadi disanapun sesuai dengan nubuatan yang tercantum didalam Al Qur’an. Jadi perkuatlah iman anda sekalian,insya Allah kezaliman mereka itu segera akan kembali menampar dan membinasakan muka mereka sendiri. Semoga Allah swt memberi taufiq kepada semuanya untuk memanjatkan do’a sebanyak-banayknya. Dan semoga Tuhan memberi kesabaran dan kekuatan iman juga kepada kita semua. Amin !!!

Alih Bahasa dari Audio Urdu oleh Hasan Basri

Surah Al-Shaff : 7

•September 24, 2008 • Leave a Comment

Mencari Terjemah Tepat

Surah Al-Shaff : 7

Ayat 7 Surah Al-Shaff diterjemahkan oleh Prof. Mahmud Yunus sebagai berikut:

“Siapakah yang terlebih aniaya daripada orang yang mengadakan dusta atas Allah, sedang ia diseru masuk Islam? (Tidak ada, malah dia yang paling aniaya). Allah tidak menunjuki kaum yang aniaya itu.”

A. Hassan menerjemahkan ayat ini sebagai berikut:

“Dan bukankah tidak ada siapa-siapa yang lebih aniaya daripada orang yang membikin dusta atas nama Allah, padahal dia diajak kepada (agama) Islam? Dan sungguh Allah tidak memberi petunjuk kaum yang dzalim.”

Prof. Hasby Ash-Shiddiqie menerjemahkan ayat ini demikian,

“Siapakah yang lebih lalim daripada orang-orang yang mengadakan kedustaan terhadap Allah, sedang dia diseru (masuk) ke dalam Islam; dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang lalim”.

Departemen Agama R.I. menerjemahkan ayat ini demikian,

“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengadakan dusta terhadap Allah, sedang dia diajak kepada agama Islam? Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”.

ORANG YANG MENGADAKAN DUSTA dan ORANG-ORANG YANG ZALIM ITU SIAPA?

Masalah yang perlu dipikirkan dalam ayat ini adalah: Orang yang mengadakan dusta kepada Allah itu siapa dan orang-orang yang zalim yang tidak diberi petunjuk itu siapa?

Kata “dusta” kiranya adalah terjemahan kata ” ‘afara” yang berarti “to cover” (menutupi). Jadi, “Min man iftara’alallahi al-kadziba” berarti “dari orang yang menutupi Allah dengan kedustaaan” atau “orang yang berdusta terhadap Allah“. Orang yang demikian adalah orang yang tidak menerima wahyu dari Allah, namun mengaku menerima wahyu dari Allah. Pendek kata, dia bukan nabi tetapi mengaku diangkat sebagai nabi Allah.

Nah, jika terjemahan Surah Al-Shaff di atas semuanya benar, mestinya dari situ kita bisa mengerti apa hubungannya antara “orang yang berdusta terhadap Allah, sementara ia diseru agar masuk/kembali ke dalam Islam” dengan “Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim” (wallaahu laa yahdii al- qoum al-zoolimiin). Rasa-rasanya jika terjemahannya adalah benar demikian mustahil kita tahu hubungan itu!

Supaya menjadi jelas, perlu terjemahan yang bersifat menjelaskan seperti halnya kalimat (Tidak ada, malah dia yang paling aniaya) dalam terjemahan Prof. Mahmud Yunus itu. Terjemah Surah Al- Shaff ayat 7, agar nampak hubungan antara “man” dengan “kaum yang zalim kiranya adalah demikian, “Tetapi, siapakah yang lebih aniaya daripada orang (yang dituduh) berdusta terhadap Allah sementara ia diseru masuk/kembali ke dalam Islam (dengan orang-orang yang menuduh)? Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang aniaya”.

Walhasil, jadi ada orang yang dituduh oleh sejumlah orang bahwa ia berdusta terhadap Allah, sementara itu ia diseru oleh orang-orang agar kembali ke dalam Islam. Orang-orang yang menuduh bahwa seseorang telah berdusta kepada Allah, kemudian mereka menyeru agar orang yang dituduh telah dusta itu agar kembali Islam. Lho, kok kembali ke dalam Islam? Apakah dulu-dulunya dia itu Islam?

Orang yang diseru agar kembali ke dalam Islam itu memang dari semula dia itu bersyahadat, shalat, puasa dan sebagainya laiknya orang Islam. Tetapi karena dia kemudian mendakwakan bahwa ia menerima wahyu dari Allah, bahkan diberi nikmat rohani berupa kenabian ummati berkat fana kepada Rasulullah saw. maka dia dicap pendusta, sesat dan menyesatkan, bahkan kafir di luar Islam. Yang memberi cap-cap demikian adalah ulama ahlul fiqh seperti yang telah dinubuwatkan oleh Syeh Muhyidin Ibnu Arabi.

Orang yang mengaku sebagai nabi di belakang Rasulullah saw. seperti yang telah kita ketahui, ada beberapa puluh. Tetapi hendaknya dicatat bahwa dakwah mereka cuma bertahan beberapa waktu. Cuma dakwah dialah seorang yang bertahan sudah 118 tahun. Jemaatnya sudah berkembang di 189 negara.

Melihat fenomena ini mestinya orang-orang berpikir: mengapa orang yang satu ini ( Mirza Ghulam Ahmad ) derapnya tidak dapat dibendung, sekalipun orang-orang yang memusuhinya selalu minta bantuan yang berkuasa? Ada apa dengan jemaat ( Ahmadiyah ) ini?

MENDEKATI KEBENARAN

Terjemahan surah Al-Shaff ayat 7 yang telah saya pilih itu rasa-rasanya sungguh sangat mendekati kebenaran. Fakta yang ada dalam ayat 8, sungguh mendukung kebenaran itu.

Mari kita ikuti, penggalan pertama ayat 8 adalah, “Yuriiduuna liyuthfi-uu nuural Laahi bi afwaahihim (mereka ingin hendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut mereka)”. Kata ganti mereka di awal ayat ini itu siapa? Mereka adalah al-qaum al-dhaalimiin (kaum yang zalim) yang disebutkan di akhir ayat 7. Dengan apa mereka hendak memadamkan cahaya Allah itu? Penggalan ayat 8 berikut menjawab pertanyaan ini, “dengan mulut mereka”. “Dengan mulut mereka” adalah dengan fatwa: “sesat dan menyesatkan, kafir di luar Islam”. Ini adalah fakta yang jelas sekali!

Selanjutnya, penggalan kedua ayat 8, berbunyi, “Wallaahu mutimmu nuurihii walau karih al-kaafiruun (Sungguh, Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya, sekalipun orang-orang yang tak percaya benci)”. Benarkah Allah menyempurnakan cahaya-Nya itu? Bila nyatanya jemaat yang dimusuhi itu sudah tertanam di 189 negara di dunia ini, apakah fakta ini tidak benar? Siapa yang membenci jemaat ini? Al-quran menjawabnya, yaitu orang-orang yang tidak percaya. Shadaqallaah!!!

IDIOLOGI MINDER

•September 24, 2008 • Leave a Comment
IDIOLOGI MINDER

Sore itu nampaknya sayalah satu-satunya yang mempunyai pendapat berbeda, yang mungkin membuat kuping hadirin -yang tidak siap menerima perbedaan pendapat- merasa panas. Dengan segala kerendahan hati, tanpa bermaksud meremehkan siapapun, saya merasa sedang berada di tengah kumpulan orang yang belum terbiasa “mendobrak” kemapanan pandangan mainstream, merasa sudah cukup, aman dan nyaman dengan keyakinan yang terbangun secara taken for granted.

Kemudian dengan intonasi setengah ragu –karena menjaga perasaan orang– saya katakan bahwa keyakinan adalah produk dari pikiran, dan pikiran sama sekali tak bisa diadili atau dikriminalkan. Jadi mempersoalkan keberadaan Ahmadiyah di Indonesia ini hanya menghabiskan energi belaka. Alangkah lebih maslahat jika dicurahkan untuk hal-hal yang high priority, sembari mencicil PR bangsa ini yang kian hari kian menumpuk.

Ahmadiyah bukan kumpulan sekte yang menyeru untuk bunuh diri massal. Mereka tidak menganjurkan perampokan atau pemerkosaan. Mereka tak makan uang negara. Mereka juga tak pernah terlibat dalam upaya-upaya makar terhadap negara. Pun tak pernah terdengar keterlibatan kelompok ini dalam peledakkan bom yang menewaskan ratusan nyawa tak berdosa. Masyarakat Ahmadiyah baik, kehidupan sosialnya pun baik. Bahkan saya yakin, Mirza Ghulam Ahmad itu orang baik.

Mereka ini bukan sekumpulan orang-orang yang terbelakang. Mereka manusia-manusia beradab. Justru paham Wahabisme/Salafy yang kian merebak di negeri inilah yang jauh lebih primitif. Tidak ada peradaban yang bisa dibanggakan, anti seni, nyaris tak berbudaya. Dakwah yang ditawarkan pun berparas seram. Contoh terdekat, simak saja omongan barbar Sabri Lubis, M. Khathath, Abu Bakar Baasyir, beserta gerombolannya itu, ketika seperti orang kalap berorasi ingin menghabisi para pengikut Ahmadiyah. Dengan modal beberapa kata kunci: bunuh, perang, halal darahnya, potong lehernya.

Ahmadiyah sama sekali bukan gerakan politik. Beberapa pakar malah menganggapnya sebagai gerakan tasawuf dengan cirinya yang khas. Dari segi teknologi, mereka mempunyai beberapa stasiun televisi dan radio di Eropa yang menyiarkan  24 jam sehari pelajaran tentang Islam, akhlak, dan ekonomi. Bung Karno menyebutkan bahwa Ahmadiyah merupakan salah satu faktor penting dalam pembaharuan Islam di India, dan satu faktor penting pula dalam propaganda Islam di benua Eropa khususnya, dan di kalangan kaum intelektual seluruh dunia umumnya. Untuk menyebut satu nama, DR. Abdussalam, pemenang Nobel Fisika, adalah orang Ahmadiyah.

Walhasil, mereka “hanya tersesat” dalam masalah penafsiran agama. Itupun menurut ukuran keyakinan kita yang “mainstream”.

Imam Ali menyebut orang-orang Khawarij sebagai orang-orang yang sebetulnya sedang mencari kebenaran. Orang yang tersesat dalam mencari kebenaran lebih baik daripada yang mencari kebatilan dan menemukannya. Padahal, eksistensi Khawarij sangat mengancam jiwa siapa saja yang mempunyai pemahaman berbeda dalam Islam. Lalu mengapa kita harus resah dengan Ahmadiyah?

Saya mencoba merenungi. Pada hakikatnya, sebagaimana kita, mereka sedang berusaha menggapai jalan kebenaran, dengan mengambil jalur yang paling mereka yakini tentunya.

Ash-shiraath al-mustaqiim adalah jalan yang lurus. Kita analogikan sebagai jalan tol yang sangat lebar, yang akan mengantarkan kita dengan cepat ke tempat tujuan, tanpa keraguan sedikitpun kita akan tersesat di dalamnya. Semua orang dengan pilihannya masing-masing berusaha mencari gerbang terdekat.

Semua jalan yang baik pada akhirnya akan bermuara kepada ash-shiraath al-mustaqiim. Jalan yang baik ini tak lain dari jalan-jalan kedamaian. Dan melalui jalan kedamaianlah Allah akan mengantar manusia menuju ash-shiraath al-mustaqiim. Menurut hemat saya, Ahmadiyah adalah agama kedamaian, bisa jadi Allah akan mengantarkan mereka menuju keselamatan. Wallahu a’lam.

Rahmat Allah sangatlah luas, meliputi segala sesuatu, melampaui apa-apa yang terjangkau pikiran manusia. Malangnya, kita seringkali mempersempit rahmat Allah yang Maha luas itu, bahkan tak sedikit yang tak segan mulai mengambil peran Tuhan dalam menentukan hidup-mati seseorang yang berbeda pemahaman.

Sungguh saya tak berani geer dengan mengatakan sudah berada di jalan yang paling benar. Paling pede saya hanya bisa mengatakan, saya punya peta yang menurut saya paling akurat –berdasarkan informasi yang saya kumpulkan dan pelajari– yang saya yakini mampu mengantarkan saya (dan Anda) ke gerbang tol dengan jarak dan waktu terpendek. Adalah suatu kewajaran (bahkan kewajiban) jika saya ingin mengajak orang-orang untuk mengikuti jalan yang saya pilih. Tetapi jika mereka menolak, sedikitpun saya tak bisa memaksanya, apalagi sampai melemparinya batu. Bisa jadi bahwa informasi yang saya sampaikan ini masih kurang persuasif sehingga belum berhasil meyakinkan mereka. Jika ada yang mengatakan bahwa jalan yang saya tempuh ini tidak benar, ini malah jadi pembelajaran buat saya, bahwa ternyata saya masih gagal mengartikulasikan pemahaman saya.

Kepada Anda yang sewot dengan Ahmadiyah, dari sisi mana Anda melihat bahwa keberadaan Ahmadiyah di Indonesia akan mengancam harta, jiwa serta keyakinan Anda? Kalau Anda merasa benar, mengapa harus takut? Jika Anda menemukan fakta bahwa banyak orang tertarik masuk Ahmadiyah, seharusnya Anda introspeksi diri, jangan-jangan ada yang salah dengan metodologi dakwah Anda. Atau malah pondasi keyakinan Anda yang ternyata masih rapuh. Jadi tak usah minder. Ideologi minder hanya milik kaum Wahabi/Salafy yang gemar menggunakan cara kekerasan. Dan kekerasan yang mereka lakukan hanya untuk menutupi ketidakmampuan dalam menghadapai tantangan wacana intelektual. Coba cari satu saja tokoh intelektual Wahabi/Salafy yang berasal dari Arab Saudi misalnya, saya jamin jutaan rambut Anda akan rontok (seperti saya).

Untuk membuktikan kekokohan akidah yang kita anuti, kita harus berani membenturkannya dengan “kebenaran-kebenaran” versi lain, sampai terbukti benar kehebatan milik kita. Selanjutnya biar putaran roda sejarah yang menentukan, yang kuat akan bertahan, yang lemah akan terhempas. [ http/irfanpermana.wordpress.com)

KOMENTAR TOKOH NASIONAL TENTANG SKB & AHMADIYAH

•September 24, 2008 • Leave a Comment

Sobri Lubis – Sekjen FPI.
“Bunuh, bunuh, bunuh, BUNUH! PERANGI AHMADIYAH, BUNUH AHMADIYAH, BERSIHKAN AHMADIYAH DARI INDONESIA! Ahmadiyah halal darahnya! Persetan HAM! Tai kucing HAM! Allahu Akbar” Video Tablig Akbar, FUI, Banjar , 14 Feb 2008
http://www.youtube.com/watch?v=U7RLCXNdKF4

Kiai NU se-Cirebon Tolak Pembubaran Ahmadiyah.
Kiai-kiai sepuh yang tergabung dalam Forum Kyai Peduli Khittah Nahdatul Ulama 26 Cirebon menyatakan sikap menolak, Mereka menyayangkan Bakorpakem yang menyatakan ajaran Ahmadiyah. sesat, tanpa terlebih dulu mengetahui pengertian sesat menurut agama. “Nanti jangan-jangan semua aliran Islam yang masih ada oleh Bakorpakem dinyatakan sesat,” ujar KH Syarif Usman Yahya*.
http://www.detiknews.com

Todung Mulya Lubis – Pengacara Senior.
Pernyataan yang menuding Ahmadiyah sesat adalah pernyataan arogan, Negara tidak punya hak masuk domain pribadi. Kita akan melawan setiap pembubaran organisasi.
http://www.detiknews.com

Amien Rais – Mantan Ketua MPR RI/PP Muhamadiyah.
“Ahmadiyah bukan gerakan politik. Beberapa stasiun televisi mereka di Eropa hanya bicara tentang ajaran,Islam, akhlak, dan ekonomi.Di Pakistan mereka tetap eksis. Mereka naik haji ke Mekkah dan Madinah,juga tetap salat lima waktu. Bahkan setahu saya, banyak jenderal angkatan laut, darat, dan udara
di Pakistan orang Ahmadiyah. Bahkan pemenang Nobel Fisika, Dr Abdussalam, juga orang Ahmadiyah. Jadi mereka itu sekumpulan orang intelektual. Bahkan, kalau mau jujur, yang
menyiarkan agama Islam di Eropa, ya, orang-orang Ahmadiyah lewat stasiun televisi dan stasiun radio.
http://www.tempointeraktif.com 28 April 2008

GUS DUR SIAP MEMBELA AHMADIYAH
Mantan Presiden Abdurrahman Wahid akan membela Ahmadiyah. Gus Dur siap menjadi saksi ahli dan mendampingi Ahmadiyah dalam proses hukum. “Ahmadiyah harus dilindungi,” kata mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama “Mereka harus dilindungi menurut undang-undang dasar kita. Kalau mereka tidak berani, tetap saja itu kewajiban,”
http://Metrotvnews.com

Prof. Dr. Hamka, tidak asing lagi bagi masyarakat kita, seorang alim terkemuka, berpengaruh dan termasuk orang yang menentang Ahmadiyah.* Namun demikian Prof. Dr. Hamka “DIPAKSA” oleh hati nuraninya untuk berkata dan menulis tentang KEBENARAN dan Jasa Ahmadiyah seperti berikut: “Adapun Kaum Ahmadi (Ahmadiyah) dan Usahanya Menyebarkan Islam di benua Eropa dan Amerika, dengan dasar ajaran mereka, faedahnya bagi Islam ada juga. Mereka Menafsirkan Qur’an ke dalam bahasa-bahasanya yang hidup di Eropa. Padahal di zaman 100 tahun yang lalu masih merata kepercayaan tidak boleh menafsirkan Qur’an. Penafsiran Qur’an dari kedua golongan Ahmadiyah itu membangkitkan minat bagi golongan yang Menginginkan Kebangkitan Ajaran Muhammad kembali buat memperdalam selidiknya tentang Islam.
Dari Pelajaran Agama Islam, hal. 199, cetakan pertama 1956, Penerbit Bulan Bintang.

Goenawan Muhamad – Redaktur Senior Tempo
SKB Ahmadiyah jangan dikeluarkan karena bertentangan dengan kebebasan beragama . Jika Ahmadiyah dibubarkan , satu lagi bagian penting Negara dikhianati
http://www.detiknews.com

Ir. Soekarno – Presiden RI Pertama
“Ahmadiyah adalah besar pengaruhnya, juga di luar India. Ia bercabang di mana-mana, ia menyebarkan banyak kerpustakaannya ke mana-mana. sampai di Eropa dan Amerika orang baca ia punya buku- buku, sampai di sana ia sebarkan
punya propagandis-propagandis. Corak ia punya Sistem adalah memprogandakan Islam dengan cara apologetis, yakni mempropagandakan Islam dengan mempertahankan Islam itu terhadap serangan-serangan dunia Nasrani; mempropagandakan Islam dengan membuktikan kebenaran Islam di hadapan kritikannya dunia Nasrani, ya … Ahmadiyah adalah salah satu faktor penting di dalam pembaharuan pengertian Islam di
India, dan satu faktor penting pula di dalam memPROPAGANDAdakan Islam di benua Eropa khususnya, di kalangan kaum intelektuil seluruh dunia umumnya.

H. Agus Salim dan H.O.S Cokroaminoto
“Kongres Serikat Islam 26-29 januari 1928 di Jogjakarta memperingati hari S.I. 15 tahun. Sebagai dimaksudkan dahulu itu, diadakan juga Majelis Ulama itu, tetapi Muhammadiyah tidak mau turut duduk di Majelis itu sebenarnya Majelis S.I. adanya, jadi di luar organisasi ini, tidak mempunyai kekuasaan apa-apa. Di Kongres itu dibicarakan juga tafsir Qur’an yang sedang dikerjakan oleh Cokroaminoto. Dari penerbitan-penerbitan pertama, ternyatalah bahwa tafsir itu didasarkan atas Tafsir Ahmadiyah. Lantaran ini timbullah dalam kalangan sendiri perlawanan yang keras. Salim menerangkan, bahwa dari segala jenis tafsir Qur’an, yaitu dari kaum kuno, kaum Muktazilah, ahli sufi dan golongan moderen (di antaranya Ahmadiyah, Wahabi baru, dan kaum Theosofi), Tafsir Ahmadiyah-lah yang paling baik untuk memberi kepuasan kepada pemuda-pemuda Indonesia yang terpelajar”.
Mr. A.K. Pringgodigdo, Sejarah Pergerakkan-pergerakan Rakyat Indonesia, 1946, cetakan kelima, halaman 47, Penerbit Pustaka Rakyat

BAKOR PAKEM DITUNTUT DIBUBARKAN
Aliansi Kebangsaan mendesak pemerintah membubarkan Badan Koordinasi Pengawas Aliran Kepercayaan Masyarakat (Bakor Pakem). Lembaga tersebut dianggap sebagai peninggalan Orde Baru yang mengabaikan hak azasi manusia. Desakan tersebut disampaikan dalam konfrensi pers di Kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia YLBHI, Jakarta, Ahad (4/5). Aliansi Kebangsaan terdiri berbagai gabungan organisasi dan aktivis nonpemerintah. Antara lain, Todung Mulya Lubis, Asfinawati dari LBH Jakarta, Patra M Zen dari YLBHI. Menurut Aliansi Kebangsaan, rekomendasi yang dikeluarkan Bakor Pakem tidak berdasar hukum, melainkan hanya berdasar tafsir agama dari pihak tertentu. Bakor Pakem dinilai tidak memiliki kewenangan untuk menyatakan suatu ajaran terlarang atau tidak. Dalam kasus Ahmadiyah, Bakor Pakem dianggap telah melanggar hak asasi seseorang untuk berkeyakinan, berserikat dan mendapat kepastian hukum serta perlakuan yang tidak diskriminasi. Karena itulah, Aliansi Kebangsaan akan melancarkan protes apabila Ahmadiyah benar-benar dilarang.(BEY)
http://Metrotvnews.com

Tanggapan Anand Krishna terhadap Ketua MPR Hidayat Nurwahid tentang kalimat “Umat yang lain yang berbeda Tuhan dengan umat Islam kan tidak ada masalah,”.
http://hnw.or.id/?op=isi&id=4749
Bapak Ketua MPR yang saya muliakan, sepertinya ada kekeliruan dalam berita tersebut diatas, dimana Bapak dikutip: “Umat yang lain yang berbeda Tuhan dengan umat Islam kan tidak ada masalah,” Saya yakin seyakin-yakinnya bahwa Bapak tidak percaya akan adanya dua atau tiga atau empat tuhan, masing-masing agama memiliki tuhan sendiri.
Kutipan ini memberi kesan seolah Bapak menduakan Tuhan. Ini jelas tidak mungkin. Mohon Bapak mengambil tindakan untuk meralatnya, karena sekali lagi saya yakin Bapak tidak akan pernah memberi pernyataan seperti itu. jauh lebih terhormat dan mulia bila Bapak SELALU MEMPOSISIKAN DIRI SEBAGAI KETUA MPR MILIK SELURUH BANGSA, bukan milik partai tertentu atau golongan tertentu.
ppiindia@yahoogroups.com ppiindia
http://www.anandkrishna.org anandkrishna
Salam Indonesia!

program perhitungan_Gaji

•September 24, 2008 • Leave a Comment

program perhitungan_Gaji;
uses wincrt;
var nik,nama,jabatan:string;
masa_kerja:shortint;
tuber,gakot,gapok,pajak,gaber:real;
begin
writeln(‘menghitung gaji karyawan’);
writeln(‘————————’);
write(‘nik                          : ‘);readln(nik);
write(‘nama                         : ‘);readln(nama);
write(‘jabatan                      : ‘);readln(jabatan);
write(‘masa kerja                   : ‘);readln(masa_kerja);
write(‘gaji pokok                   : ‘);readln(gapok);readln;
tuber:=masa_kerja/60*gapok;
write(‘tunjangan berkala            : ‘,tuber:0:2);readln;
gakot:=gapok+tuber;
write(‘gaji kotor                   : ‘,gakot:0:2);readln;
pajak:=gakot*0.02;
write(‘pajak                        : ‘,pajak:0:2);readln;
gaber:=gakot-pajak;
write(‘gaji bersih                  : ‘,gaber:0:2);readln;
donewincrt;
end.